test
Help me make the day, today. A fabulous one. Full of love, bless, and luck. Thank You. Amen
Tampilkan postingan dengan label Cerita Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Cinta. Tampilkan semua postingan
Rabu, 23 Mei 2012
The Unsure
Labels:
Art,
Cerita Cinta,
Drawing,
Gambar,
Illustrasi,
Karya
Sabtu, 09 Januari 2010
menggores senyummu lagi
molek pinggulnya menari-nari lucu
mengitariku dengan senyum yang konyol
diraih tanganku mengikutinya...
berenang-renang di irama lagu kasidah
liuk-liuk suaranya membuatku terbahak
bentuk keindahan yang mungkin tak laku di radio
tapi cukup menjual di hatiku ini
kubeli dengan senyum jempol bergoyang
ada kala airmata menetes di kedua pipimu
detik-detik hening bingung yang hapus senyummu
aku berharap pelukku dapat hapus deritamu
aku berharap bisa berkata yang semestinya
kata-kata sungguh terbatas di mulutku
luasnya hati ini tak terlukiskan olehnya
di saat-saat seperti itu kuingin kau mencebur
ke dalam jurang hatiku yang dalam dan gelap
lihat.. lihatlah dasarnya yang lembab
ada namamu bersinar terukir di setiap dindingnya
dan kuberharap kau mau membaca dengan seksama
hati sederhana yang hanya berhiaskan kasih dan sayang
sini dek, jari-jari itu biar kugenggam
kugandeng kubawa ke puncak nirwana
melihatmu bersinar dan kembali berdendang
mengukir senyum yang lebar lepas nan luas
saat ini dampingi aku di jurangku
esok kubawa kau bernyanyi di puncak tertinggi
berpelukan kita menari bertabur emas permata
membelai hati bersama dan memadu cinta
ayo tersenyum dek, bernyanyi kembali
lepaskan suaramu lepaskan kasidahmu
ayo sini dek, kita bergandeng lagi
karena rasa ini tak patut dihapus oleh apapun
sudah ya dek.. senyum ya dek...
Labels:
Cerita Cinta,
Idea,
Poet
Sabtu, 21 Maret 2009
nada nada dan aku
dan malam duka, membalut luka
di ruang lara, kutangkap nada...
nada nadaku menjahit duka
dari tari tarimu menyayat hati
nada nadaku hidupkan asa
dari khianat cinta cambuk derita
nada nadaku tawarkan bara
dari mulutmu jahanam berbisa
nada nadaku tegakkan aku
nada nadaku bangunkan aku
mengalir deras bersemi mimpi
mengalun indah memeluk hati
nada nadaku membunuh kamu
nada nadaku musnahkan kamu
nada nada surga selimuti aku
ambil saja neraka jadi milikmu
nada nada surga membawa anugerah cinta...
yang kaurenggut, kaubunuh, dan hampir mati
-
redup dan lagi hidup
tak akan kubiarkan mati
sujudlah wahai kamu sujud
sebelum durhaka merenggut segalamu
nada nadaku goreskan senyum di wajahku
nada nadaku, tak pernah lagi ada kamu
di ruang lara, kutangkap nada...
nada nadaku menjahit duka
dari tari tarimu menyayat hati
nada nadaku hidupkan asa
dari khianat cinta cambuk derita
nada nadaku tawarkan bara
dari mulutmu jahanam berbisa
nada nadaku tegakkan aku
nada nadaku bangunkan aku
mengalir deras bersemi mimpi
mengalun indah memeluk hati
nada nadaku membunuh kamu
nada nadaku musnahkan kamu
nada nada surga selimuti aku
ambil saja neraka jadi milikmu
nada nada surga membawa anugerah cinta...
yang kaurenggut, kaubunuh, dan hampir mati
-
redup dan lagi hidup
tak akan kubiarkan mati
sujudlah wahai kamu sujud
sebelum durhaka merenggut segalamu
nada nadaku goreskan senyum di wajahku
nada nadaku, tak pernah lagi ada kamu
Labels:
Cerita Cinta,
Derita,
Poet,
Tumpahan
Sabtu, 07 Maret 2009
Arra melihat Papa melihat Mama

Ruangan itu sejuk. Suasana hening dan sesekali terdengar desiran angin membelai tirai dan tanaman hias kecil yang memberi kedamaian.
Arra - gadis kecil cantik bermata bulat dan indah seperti Mama tapi kelopaknya seperti Papa. Hidung mungilnya yang tak mirip dengan yang dimiliki Papa -Thank God, kata Mama sesaat Arra masih merah dulu-. Kulitnya seperti susu tapi merona indah. Dengan jari jemari kecil sungguh lucu memainkan Barbie berwarna pink dan berambut pirang. Matanya berbinar seakan melayang dengan khayalannya dan menyatu dengan sosok boneka cantik itu.
Di balik jendela kaca yang lebar seperti tanpa bingkai, terlihat dua sosok yang lebih sering tidak digubrisnya dibanding Barbie. Barbie terlalu menyita perhatiannya.
Hingga pada suatu saat setelah sebuah desiran angin lembut mengusiknya dan mengarahkan pandangannya ke balik jendela kaca itu.
Sayup-sayup terdengar tawa kecil yang seperti saling menggoda. Dua orang itu membelakangi Arra. Terlihat Rambut panjang Mama yang lurus dan indah. Lembut bergoyang mengiringi suara bulat yang kadang berceloteh cepat. Sosok yang lain juga tertawa namun lebih rendah, Arra tau itu Papa.
Sambil diiringi suara tawa kecil dan desir angin, Arra kembali melirik Barbie nya. Kali ini jari-jarinya iseng menekan tuts piano kecil Hadiah Mama dari Hongkong. Lucu- piano kecil merah bermotif oriental dengan gambar kartun bermata sipit dan memakai peci bulat.
Arra ingat Mama membungkusnya dengan kertas merah emas dan memberikannya dengan ciuman. Dan Papa telah berhasil menuntunnya memainkan Twinkle Twinkle Li'l Star. Arra tak bosan mengulanginya dan dengan cadel mencoba menirukan Mama yang fasih menyanyikan liriknya.
Untuk sesaat, suasana berubah hening. Tawa yang bergulir tiba-tiba terhenti. Mata Arra yang bulat melirik lucu ke jendela kaca. Papa dan Mama diam.
Rambut panjang lembut itu sudah bersandar di bahu Papa. Papa menyentuhkan bibirnya dengan lembut dan dalam ke rambut lembut itu, sambil membisikkan sesuatu -Aku sayang kamu....- Arra tak mengerti artinya. Siluet dua insan kesayangannya itu menyentuhkan kening, lalu hidung mereka bersentuhan secara lucu ... bergesekan dan mereka tersenyum. Jari Mama yang putih bertaut dengan jari Papa... Kilau cincin Mama yang besar selalu menarik perhatian Arra.
Aku juga cinta kamu selamanya - Mama meraih jemari Papa dan menempelkannya di pipi.
Arra juga tidak tau apa artinya. Tapi matanya yang berbinar menggambarkan kedamaian dan kebahagiaan.
Bentuk kedamaian dari sebuah cinta abadi
Bentuk cinta yang hadir dari sebuah kesederhanaan
Arra tersenyum manis. diliriknya piano Hongkong, lalu mulai ia melantunkan Twinkle Twinkle Li'l Star..... terbata-bata tapi indah dan hening...
Papa dan Mama menoleh serempak ke dalam ruangan sejuk.
Mengamati buah hati mereka sejenak
Kemudian kembali bertatapan
"Dia punya senyummu, sayang. Punya bibirmu", kata Papa.
Mama tersenyum indah sambil melihat buah hatinya...
Papa menatapnya dan terdiam menikmati senyum terkembang yang mampu sejukkan ruang hati itu tercetak persis di bibir dua orang cinta dalam hidupnya...
Bentuk kedamaian dari sebuah cinta abadi
Bentuk cinta yang hadir dari sebuah kesederhanaan
Arra - gadis kecil cantik bermata bulat dan indah seperti Mama tapi kelopaknya seperti Papa. Hidung mungilnya yang tak mirip dengan yang dimiliki Papa -Thank God, kata Mama sesaat Arra masih merah dulu-. Kulitnya seperti susu tapi merona indah. Dengan jari jemari kecil sungguh lucu memainkan Barbie berwarna pink dan berambut pirang. Matanya berbinar seakan melayang dengan khayalannya dan menyatu dengan sosok boneka cantik itu.
Di balik jendela kaca yang lebar seperti tanpa bingkai, terlihat dua sosok yang lebih sering tidak digubrisnya dibanding Barbie. Barbie terlalu menyita perhatiannya.
Hingga pada suatu saat setelah sebuah desiran angin lembut mengusiknya dan mengarahkan pandangannya ke balik jendela kaca itu.
Sayup-sayup terdengar tawa kecil yang seperti saling menggoda. Dua orang itu membelakangi Arra. Terlihat Rambut panjang Mama yang lurus dan indah. Lembut bergoyang mengiringi suara bulat yang kadang berceloteh cepat. Sosok yang lain juga tertawa namun lebih rendah, Arra tau itu Papa.
Sambil diiringi suara tawa kecil dan desir angin, Arra kembali melirik Barbie nya. Kali ini jari-jarinya iseng menekan tuts piano kecil Hadiah Mama dari Hongkong. Lucu- piano kecil merah bermotif oriental dengan gambar kartun bermata sipit dan memakai peci bulat.
Arra ingat Mama membungkusnya dengan kertas merah emas dan memberikannya dengan ciuman. Dan Papa telah berhasil menuntunnya memainkan Twinkle Twinkle Li'l Star. Arra tak bosan mengulanginya dan dengan cadel mencoba menirukan Mama yang fasih menyanyikan liriknya.
Untuk sesaat, suasana berubah hening. Tawa yang bergulir tiba-tiba terhenti. Mata Arra yang bulat melirik lucu ke jendela kaca. Papa dan Mama diam.
Rambut panjang lembut itu sudah bersandar di bahu Papa. Papa menyentuhkan bibirnya dengan lembut dan dalam ke rambut lembut itu, sambil membisikkan sesuatu -Aku sayang kamu....- Arra tak mengerti artinya. Siluet dua insan kesayangannya itu menyentuhkan kening, lalu hidung mereka bersentuhan secara lucu ... bergesekan dan mereka tersenyum. Jari Mama yang putih bertaut dengan jari Papa... Kilau cincin Mama yang besar selalu menarik perhatian Arra.
Aku juga cinta kamu selamanya - Mama meraih jemari Papa dan menempelkannya di pipi.
Arra juga tidak tau apa artinya. Tapi matanya yang berbinar menggambarkan kedamaian dan kebahagiaan.
Bentuk kedamaian dari sebuah cinta abadi
Bentuk cinta yang hadir dari sebuah kesederhanaan
Arra tersenyum manis. diliriknya piano Hongkong, lalu mulai ia melantunkan Twinkle Twinkle Li'l Star..... terbata-bata tapi indah dan hening...
Papa dan Mama menoleh serempak ke dalam ruangan sejuk.
Mengamati buah hati mereka sejenak
Kemudian kembali bertatapan
"Dia punya senyummu, sayang. Punya bibirmu", kata Papa.
Mama tersenyum indah sambil melihat buah hatinya...
Papa menatapnya dan terdiam menikmati senyum terkembang yang mampu sejukkan ruang hati itu tercetak persis di bibir dua orang cinta dalam hidupnya...
Bentuk kedamaian dari sebuah cinta abadi
Bentuk cinta yang hadir dari sebuah kesederhanaan
Labels:
Cerita,
Cerita Cinta
Langganan:
Postingan (Atom)
